Strategi UMKM Bertahan Di Masa Pandemi Corona

0
4

Pandemi Corona datang sangat cepat dan diluar prediksi pelaku usaha. Tiga bulan yang lalu, pembeli masih memesan seperti biasa, karyawan masih berproduksi, cash flow masih terkendali, stok pun di serap oleh pasar. Dalam waktu kurang dari Dua Bulan, seluruh kegiatan dibatasi untuk membendung wabah Corona meluas, pergerakan masyarakat dibatasi, pertemuan bisnis dikurangi, sentra-sentra ekonomi seperti pusat perbelanjaan pun terpaksa tunduk oleh Corona dengan mengurangi jam operasionalnya. Dengan sedikitnya pergerakan masyarakat, otomatis pergerakan ekonomi pun melambat, di satu sisi meredam wabah menyelamatkan ekonomi di masa depan, semakin tertib dan dibatasinya pergerakan semakin cepat wabah berlalu. Di sisi lain, semakin dibatasinya pergerakan semakin menekan pertumbuhan ekonomi, tidak ada negara yang siap akan kondisi seperti ini bahkan negara adidaya seperti China pun tunduk dengan melakukan lockdown.

Situasi ini membuat ekonomi Indonesia anjlok, Rupiah loyo, pusat perkantoran berkurang efektifitasnya dengan adannya Work From Home (WFH) dan pusat ekonomi mengurangi jam operasionalnya, terpukulnya ekonomi Indonesia merupakan pukulan telak kepada UMKM yang merupakan 98% penggerak ekonomi negara. Menurut data dari  Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia tentang Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2016-2017, UMKM berjumlah sebesar 62.922.617 unit usaha pada tahun 2017, sedangkan UB hanya berjumlah sebesar 5.460 unit usaha. UMKM yang bergerak di sektor jasa seperti, makanan olahan, fashion, rental mobil, LPK, busana muslim, dan lainnya yang bergerak di sektor sekunder dan tersier mengalami benturan pertama dan memaksa untuk “hibernasi” sampai wabah ini berlalu. Di sisi lain pelaku UMKM yang bergerak di di sektor tersier seperti apotik, toko tani, toko bangunan masih dapat bertahan untuk beberapa waktu kedepan. Pertanyaanya berapa lama?

Kondisi “semi krisis” yang terjadi saat ini jauh berbeda dengan krisis pada tahun 1998-2000 dimana fundamental keuangan Indonesia rontok, UMKM menjadi penopang karena rendahnya pengaruh mata uang terhadap produk jualannya, sekarang? berbeda, semua sektor keuangan, logistik dan sebagian besar supply chain terganggu merasuk hingga ke dapur UMKM. Namun bukan UMKM jika tidak banyak akal dan mampu melihat peluang, layaknya sebuah balon yang ditekan di satu sisi nya, dia akan muncul di sisi yang lain, beberapa langkah berikut mungkin dapat menambah khazanah strategi untuk bertahan di wabah Corona ini.

Evaluasi Jalur Supplier Hingga Sampai Ke Konsumen

Ada baiknya dalam kondisi seperti ini, untuk melihat kembali dan memetakan supplier yang terdampak sehingga tidak dapat memenuhi pesanan. Cari alternatif supplier dari daerah lain yang tidak begitu terdampak wabah (diluar zona merah). Perubahan gaya hidup selama pembatasan sosial berarti perubahan gaya dalam berbelanja, yang asalnya belanja dengan mendatangi sekarang di datangi, beritahu secara aktif kepada existing customermengenai tata kelola pemesanan produk, tawarkan solusi selama masa pembatasan sosial.

Kelola Cash Flow Agar Selalu Sehat

UMKM di saat “survival mode” harus memegang uang tunai yang cukup,  dalam kondisi seperti ini mementingkan cash flow jauh lebih baik daripada memikirkan profit. Untuk mensiasati lesunya penjualan, dapat dilakukan promo bundling atau join promo, yang terpenting produk selalu berputar, sehingga cash flow selalu terjaga, tentunya dengan proses pembayaran bukan tempo, permudah pembayaran bagi konsumen dengan memberikan alternatif non-tunai bagi gerai take away.

Redefinisi Produk Atau Jasa

Perubahan pola belanja konsumen dengan adanya physical distancing membuat UMKM yang mengandalkan gerai atau offline mendadak kehilangan basis konsumennya. Ketua AKUMINDO (Asosiasi UMKM Indonesia) Ikhsan Ingratubun mengatakan “Rata-rata yang PHK itu UMKM fashion dan handycraft. Mereka sudah hancur lebur, syukur-syukur jika tertinggal omzetnya 25%. Untuk UMKM makanan juga sudah menurun omzetnya sekitar 35%.” Dalam kondisi seperti ini perlu tindakan radikal redefinisi produk atau servis, misalnya untuk usaha fashion yang cukup terdampak dapat mem-produksi masker yang sangat dibutuhkan masyarakat, untuk UMKM food and beverages dapat mengalihkan menjadi frozen food atau take away atau menjual produk yang premix ready to serve.

Manfaatkan Insentif dan Kebijakan Dari Pemerintah

Pemerintah telah menerbitkan kebijakan relaksasi suku bunga kredit bagi masyarakat terdampak Virus Corona, kebijakan itu termasuk relaksasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi debitur usaha mikro, kecil, dan menengah. Berlakunya relaksasi ini memberikan “keringanan” paling tidak selama pandemi ini berlangsung

Tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir, Satu hal yang pasti adalah optimisme dalam menghadapi masa depan harus selalu dipertahankan. Salah satu kelebihan dari UMKM adalah mudahnya merubah haluan usaha, saat ini membuat baju koko besok membuat masker, saat ini membuat ayam goreng besok membuat bumbu ayam goreng, saat ini mejual kopi besok membuat minuman rempah, dibalik setiap kesempitan selalu ada kesempatan. Terkakhir berdoa selalu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan kemudahan, kesehatan dan perlindungan di masa yang sulit ini.

Ulasan ini ditulis oleh: Rani Nurnawati
Mahasiswi Magister Manajemen 2020 
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jendral Soedirman 
Purwokerto – Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here