Pemkab Malinau Berupaya Bangun Akses Jalan Darat Perbatasan

0
95

MALINAU – Mengalami defisit anggaran beberapa tahun belakangan, tak menyurutkan niat Pemerintah kabupaten Malinau untuk berupaya membangun jalan di perbatasan desa Long Top, Kecamatan Sungai Boh menuju desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir. Upaya tersebut dengan menyerahkan pembangunan jalan kepada negara, meski fungsi jalan tidak masuk dalam kriteria.

“Jika mellihat posisi dan fungsi jalan menuju desa Long Sule, sebenarnya sulit untuk diserahkan kepada pemerintah pusat untuk perbaikan dan pemeliharaan jalannya. Karena, selain posisi desa berada diujung jalan, akses jalan dari Long Sule ke desa lain di Apo Kayan itu tidak ada. Artinya, Long Sule itu desa terakhir,” Kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Permukiman (DPUTR-Perkim) Malinau, Tommy Labo didampingi Kepala Bidang Bina Marga DPUTR-Perkim Malinau, Yafta Lasung.

Salah satu kriteria untuk bisa diserahkan kepada pemerintah pusat ialah, jalan tersebut dapat menghubungkan satu daerah, ke daerah lainnya di kawasan perbatasan pedalaman Apo Kayan (Kecamatan Kayan Hilir, Hulu, Selatan, dan Sungai Boh.

“Kalau jalan yang menuju desa-desa di kecamatan lainnya, jalannya itu terhubung. Antara jalan satu dengan jalan yang lainnya. Disisi lain, letaknya karena menjadi jalan menuju perbatasan, membuat jalan itu bisa menjadi jalan nasional. Jadi jalan yang diambil pemerintah pusat memang sesuai fungsinya, untuk dijadikan jalan nasional,” jelas Yafta.

Meskipun berat, lantaran mengalami defisit, satu-satunya cara untuk melaksanakan pembangunan jalan menuju desa Long Sule dengan anggara dari APBD Malinau. Meski begitu Yafta menegaskan, pihaknya tidak akan berhenti berjuang, menjadikan jalan menuju Desa Long Sule, masuk dalam kriteria jalan Nasional

“Jalan menuju Desa Long Sule itu, sampai sekarang belum ada yang membantu. Jadi pembangunannya murni dari APBD Malinau. Kalau mau segera terbangun, harus ada pihak lain yang membantu. Semisal dari APBN, yang membantu pembangunan jalan Apo Kayan lainnya sebesar Rp 12 Miliar,” terang Yafta.

“Sejauh ini, pembangunan jalan di desa terpencil dan terisolasi tersebut sudah terealisasi 14 kilometer jauhnya dari Desa Long Top, Kecamaan Sungai Boh. Sementara total panjang jalan yang yang harus dibangun adalah 52 kilometer. Ya, kita lihat nanti Bagaimana perkembangan selanjutnya. Intinya kami akan berjuang untuk membuka jalan tersebut,” sambungnya.

Opsi Lintas Provinsi Sulit Terealisasi

Proses pembangunan jalan menuju Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir memang terbilang pelik. Selain opsi meneruskan pembangunan jalan dari arah Desa Long Top, Kecamatan Sungai Boh ditengah defisit anggaran yang dialami Pemkab Malinau. Alternatif pembangunan jalan lain yang bisa memungkinkan untuk membuka keterisolasian desa anyaman rotan ini adalah melalui jalur darat Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Namun hal tersebut tampaknya juga sulit untuk direalisasikan. Mengingat kondisi anggaran APBD yang dimiliki Pemkab Malinau saat ini mengalami defisit. Tak hanya itu, Provinsi Kaltim maupun Kaltara tampaknya juga tak bisa membiayai pembangunan jalan yang dahulunya dimanfaatkan perusahaan untuk beroperasi.

“Walaupun perusahaan mengizinkan untuk membangun, fokus pembukaan jalan provinsi Kaltim maupun Kaltara bukan di daerah jalan tersebut,” terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Permukiman (DPUTR-Perkim) Malinau, Tommy Labo didampingi Kepala Bidang Bina Marga DPUTR-Perkim Malinau, Yafta Lasung.

“Salah satu fokus pembukaan jalan oleh Provinsi Kaltim adalah jalan dari Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu menuju Sungai Boh Kabupaten Malinau. Pembangunan jalan ini  sudah menjadi prioritas setiap tahunnya, melihat kondisi desa di sana setiap tahunnya. Disisi lain pembangunan jalan lainnya yang diprioritaskan Pemprov Kaltim juga memerlukan biaya yang tak sedikit,” sambung Yafta.

Untuk itu, Pemkab Malinau tetap memprioritaskan pembangunan jalan menuju Desa Long Sule melalui Desa Long Top. “Kita tidak ingin membangun jalan ini setengah-setengah. Misal, tahun ini sekilo, tahun depan lagi sekilo. Kita maunya jaln ini langsung dibangun seluruhnya,” tegas Yafta lagi.

Kebutuhan Jalan Long Sule Mendesak

Sementara itu Bupati Malinau, DR Yansen TP MSi mengungkapkan, penderitaan yang dialami masyarakat Desa Long Sule telah dialami bertahun-tahun lamanya. Untuk itulah pihaknya terus mengupayakan pembangunan jalan yang mampu membuka keterisolasian Desa Long Sule.

“Kita dulu membangun dalam 5 tahun harus ada targetnya. Untuk jalan Desa Long Sule, ditengah jalan dihadapkan perizinan hutan lindung. Setelah izinnya keluar, anggarannya lagi yang tidak ada. Karena sejak tahun 2016  APBD kita merosot tajam. Dari Rp 2,4 Triliun berkurang hingga separuhnya,” jelas Yansen.

Dirinya pun meminta kepada pemerintah pusat maupun provinsi dapat terlibat langsung dalam membantu pembangunan jalan yang telah diupayakan Pemkab Malinau untuk membuka keterisolasian masyarakat Desa Long Sule.

“Yang kami lakukan saat ini, hanya membuka keterisolasian. Kalau dikatakan membuat jalan sebenarnya belum. Untuk itu kami berharap provinsi maupun pusat dapat membantu upaya kami membuka keterisolasian masyarakat Desa Long Sule. Ditengah defisit anggaran yang kami alami,” tegas Bupati Yansen.

“Setidaknya bisa membantu, mengingat masyarakat Desa Long Sule juga memiliki produk-produk inovasi yang menjadi ciri khas mereka. Salah satunya adalah anyaman rotan yang sudah dikenal luas sampai di pemerintah pusat. Sangat disayangkan salah satu potensi ini tidak bisa tereksplor karena tidak adanya akases yang memadai,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here