Dompet Digital, Praktis tapi Cepat Habis

0
47

Kemajuan teknologi sekarang ini menawarkan berbagai kemudahan bagi masyarakat. Salah satunya kemudahan dalam melakukan transaksi pembayaran. Bagi kaum milenial, smartphone dan internet menjadi modal utama kemudahan mereka dalam beraktifitas. Hanya dengan smartphonedan paket data internet mereka mampu melakukan berbagai macam transaksi mulai dari membayar transportasi, makan, dan kebutuhan harian lainnya. Semua pembayaran itu dilakukan menggunakan pembayaran digital (digital payment). 

Dilansir dari katadata.co.id, digital payment menjadi revolusi ketiga setelah data. Hal ini muncul seiring kebutuhan masyarakat akan kepraktisan dalam bertransaksi. Oleh karena itu, banyak bermunculan aplikasi dompet digital seperti OVO, DANA, GOPAY, dan Link Aja. Melalui dompet digital tersebut, orang dapat menyimpan uang mereka dan menggunakannya untuk berbagai macam transaksi pembayaran. Salah satu caranya dengan memindai kode QR melalui fitur scanner yang ada di aplikasi dompet digital.

Mengenal QR Code
Quick Response (QR), merespon cepat seperti sebutannya. QR hadir menjadi salah satu bentuk kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan penggunanya dalam menyimpan informasi dan transaksi secara cepat. QR code yang dikenalkan pertama kali oleh Perusahaan Jepang Denso-Wave pada tahun 1994 tersebut merupakan bentuk evolusi dari barcode. Selain bentuknya yang berbeda, QR dibuat menjadi kode dua dimensi dari barcode yang di dalamnya memuat informasi lebih banyak sehingga dapat digunakan dalam transaksi digital. Cara kerja transaksi digital dengan memindai QR yang disediakan di merchant-merchant melalui smartphone kita. 

Kode QR dapat kita jumpai di hampir semua minimarket seperti Alfamart dan Indomart bahkan toko kelontong dan pedagang kaki lima. Dengan demikian, bertransaksi digital akan lebih mudah karena sudah banyak merchant yang menggunakannya. Melihat kondisi ini yang akhirnya mendorong masyarakat beralih ke dompet digital. Jika dulu orang menarik uang tunai dari bank untuk mengisi dompet, sekarang mereka memindahkan uang mereka menjadi saldo ke dalam dompet digital. Selain praktis, aplikasi-aplikasi dompet digital ini memberikan banyak promo kepada para penggunanya. Hal tersebut tentu menjadi keuntungan lebih bagi masyarakat. Disamping itu, pembayaran digital menjadi solusi pada kesulitan uang pecahan sebagai kembalian bahkan sampai bentuk puluhan rupiah.

Menuju Ekonomi Digital
Vincent Henry Iswaratioso, CEO dompet digital DANA menyatakan mimpinya untuk mewujudkan ekonomi digital di Indonesia seperti dikutip dari hasil wawancaranya dengan Tim katadata.co.id pada Juli 2019. Menurutnya 10 tahun yang akan datang Indonesia dapat 100% merealisasikan penggunaan transaksi pembayaran digital. Data Bank Indonesia menyatakan nilai transaksi uang digital atau non tunai terus meningkat. Di tahun 2019, sampai dengan Juli kemarin nilai transaksi uang non tunai sebesar Rp 69,04 triliun dengan volume transaksi sebesar 2,73 miliar. Transaksi digital tersebut akan terus tumbuh seiring juga dengan meningkatnya pengguna smartphone dan internet, menurut data dari Hootsuite. 

Gerakan Nasional Non Tunai(GNNT)
Pertumbuhan transaksi digital atau non tunai di Indonesia semakin merealisasikan rencana GNNT Bank Indonesia. Dikutip dari laman bi.go.id, rencana GNNT sudah dicanangkan sejak 2014 yang pada saat itu disampaikan langsung oleh Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo. Tindaklanjut dari rencana tersebut, BI mengeluarkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang ditujukan untuk mengatur pembayaran digital dengan satu kode QR secara open loop. Dengan demikian, pembayaran digital menggunakan dompet digital maupun mobile bankingdilakukan menggunakan satu platform QRIS tersebut.

Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.21/18/PADG/2019 yang diterbitkan pada 16 Agustus 2019, BI meresmikan QRIS sebagai sistem pembayaran digital secara nasional.  Hal tersebut resmi diluncurkan BI pada 17 Agustus 2019 bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI ke-47. Implementasi penggunaan QRIS dalam sistem pembayaran digital akan efektif berlaku secara nasional mulai 1 Januari 2020, seperti dikutip dari laman bi.go.id.Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, QRIS yang bertema UNGGUL (UNiversal, GampanGUntung dan Langsung)mampu mengefisiensi proses transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, dengan adanya QRIS ini sebagai salah satu bentuk implementasi pencapaian Visi BI menjadi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) di tahun 2025. 

Dompet Digital, Solusi Bertransaksi Menjadi “Quick Response”
Dompet digital, memberikan kemudahan bertransaksi karena dapat mengefisiensi waktu, tenaga, dan biaya operasional. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi diribetkan dengan proses administrasi saat pembayaran, mengantri di bank atau outlet-outlet, atau bahkan keluar rumah untuk dapat membeli sesuatu. 

Peluncuran QRIS akan mengefisiensi QR pada masing-masing dompet digital. Kita sebagai pengguna cukup menggunakan satu QR untuk melakukan pembayaran kepada dompet digital atau bank manapun yang dituju. QRIS ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga dapat digunakan di luar negeri. Berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan BI, jika pengguna awal hanya bisa mengisi saldo maksimal Rp 2 Juta, setelah meng-upgrade dompet digitalnya pengguna dapat mengisi saldo sampai dengan Rp 10 Juta rupiah seperti dikutip dari laman bi.go.id.

Namun, ada satu hal penting yang harus diperhatikan oleh pengguna. Berhati-hati sebelum melakukan transaksi digital, termasuk sering mengecek saldo dompet digital kita. Langkah preventif lainnya adalah dengan tidak membagikan PIN kepada siapa pun. Di sisi lain, karena tidak mengeluarkan uang tunai, kecenderungan banyak masyarakat yang kalap, dan melakukan transaksi digital berlebihan, tergoda aneka promosi yang ditawarkan. Dompet digital memang praktis, tapi jangan sampai kalap sampai tak merasa, saldo uang kita ternyata cepat habis.

Tetapi sebagai pengguna, kita juga harus berhati-hati agar terhindar dari penyalahgunaan dompet digital. Langkah preventifyang dilakukan dengan menjaga privasi akun termasuk di dalamnya tidak membagikan PIN kepada siapapun. Di sisi lai, karena merasa tidak mengeluarkan uang, kecenderungan masyarakat akan lebih mudah membelanjakan uang non tunainya. Hal ini secara tidak langsung dapat menimbulkan efek konsumtif yang berlebihan. Berbagai macam promo dan diskon ditawarkan sehingga orang akan lebih mudah membuat keputusan untuk membeli tanpa mempertimbangkan isi saldo yang ada. Jadi, dompet digital memang menawarkan kepraktisan, tapi jangan sampai kalap sehingga baru menyadari uang kita cepat habis.

Ulasan ini ditulis oleh: Yesi Nartanti
Mahasiswa Magister Manajemen 2019
Universitas Jendral Soedirman – Purwokerto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here