Begini Penderitaan Warga Pedalaman Malinau Mencari Sembako – Episode 4

0
60

MALINAU – Perjalanan yang dilanjutkan melalui jalur sungai, membuat masyarakat harus menunggu hingga matahari terbit, untuk menuju Desa Long Sule dan Long Pipa. Berkumpul di Dua Pondok berukuran 10 meter x 6 meter, masyarakat yang belum beristirahat pun bercengkrama bersama para juru mudi perahu asal desa dan masyarakat yang hendak menuju Muara Wahau.

Kami pun memilih untuk rehat sejenak menghilangkan letih perjalanan di dekat permadani, beralaskan sekeping papan sepanjang 2 meter. Hanya untuk sekedar meluruskan pinggang yang lama terlipat selama perjalanan. Serta ingin sedikit menghilangkan rasa lapar akibat tak adanya nasi yang belum mengisi.

Genap 2 jam bersitirahat, kami pun terbangun dari tidur. Terlihat kesibukan para warga yang mulai menurunkan barang-barang menuju perahu sepanjang 8 meter dengan lebar tak lebih dari 1 meter.

Drum berisi BBM diangkut dengan cara digulingkan menuju tepi sungai. Sementara barang berupa gula maupun gas LPG dipikul menuruni anak tangga. Warga yang ingin melanjutkan perjalanan juga sibuk mengatur barang bawaan. Sebagian yang sudah menata barang, kemudian mempersiapkan kesiapan mesin perahu.

Setelah seluruh barang telah tersusun diatas perahu, para penumpang kemudian dibagi untuk menyesuaikan beban muatan perahu. Ongkos penumpang per orangnya Rp 400 ribu untuk tiba di Desa Long Sule dan Long Pipa.

Siap berangkat, Delapan perahu motor yang biasa disebut ketinting ataupun Cas, mengarah ke Hilir Sungai Metun. Menuju Muara, kendali dipegang oleh Juru Batu dari bagian depan perahu. Menggunakan dayung dan kayu sepanjang 3 meter, Juru Batu saya kali ini adalah Frend, yang tak perlu diragukan lagi kelihaiannya menghindari batu dan batang pohon ditengah sungai. Kelihaiannya teruji ketika mengendalikan perahu saat melintasi jeram besar dan menghindarkan perahu dari benturan saat menikung tajam.

30 menit mengandalkan dayung. Barulah mesin berkapasitas 13 tenaga kuda dihidupkan oleh Motorist ketinting. Menunduk rendah dalam perahu sering dilakukan, untuk menghindari ranting-ranting pohon yang menjulang ke tengah sungai. Ya, hanya rimbunnya pepohonan yang dapat dilihat sepanjang perjalanan.

Tiba di Muara Sungai Metun, banjir yang melanda Sungai Kayan membuat perjalanan harus terhenti. Banyaknya kayu yang hanyut terbawa banjir membuat motorist mengambil keputusan untuk singgah di pondok bekas perkampungan lama masyarakat Desa Lohom.

Menanti Satu jam lamanya, perjalanan menuju desa baru bisa dilanjutkan. Derasnya arus Sungai Kayan membuat ketinting tak dapat melaju kencang. Sesekali Juru Batu harus membantu mendayung sekuat tenaga, agar perahu bisa melawan derasnya air. Disini kekompakan Juru Mudi dan Juru Batu dipertaruhkan.

“Kalau salah-salah sampai nabrak kayu, perahu bisa karam,” ujar Gira, warga Desa Long Sule yang menjadi Juru Batu kami untuk menggantikan Frend.

Tak jarang perahu saya harus melewati sela-sela pohon yang terendam banjir untuk menghindari derasnya arus Sungai terpanjang di Kalimantan Utara ini. Memasuki wilayah perkebunan warga Desa, Mata saya kembali disuguhkan pemandangan landscape pegunungan dan birunya langit Kayan Hilir. Genap 3 jam membelah Sungai Kayan, Kami bersama rombongan masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa tiba di pemukiman.

Akhirnya, setelah menanti begitu lama dalam perjalanan, dengan beragam tantangan serta hambatannya. Kami bersama masyarakat desa yang terkenal dengan anyaman rotannya ini bisa menginjakkan kaki di Desa Long Sule dan Long Pipa genap 14 hari.

Perjuangan menempuh perjalanan seperti yang saya alami kerap dirasakan masyarakat desa yang ingin menuju ke wilayah perkotaan. Demi sekedar mendapat akses untuk berbelanja, menempuh pendidikan ataupun pergi berobat.

Adapun transportasi lain melalui jalur udara, tak bisa diandalkan masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa. Jadwal penerbangan yang tidak menentu, ditambah terbatasnya jumlah penumpang yang bisa diangkut, membuat sebagian masyarakat rela untuk memilih transportasi seadanya.

Jadi tak heran, jika harga semen di desa long sule per sak bisa mencapai 1,5 juta rupiah, bbm jenis bensin seharga 30.000 rupiah perliter untuk aktifitas sehari-hari. Belum lagi harga sembako seperti gula dan tepung terigu bisa harganya jadi berlipat-lipat.

Tak hanya Pemerintah Kabupaten, keterlibatan Pemerintah Provinsi maupun Pusat juga diharapkan mampu terlibat untuk menyelesaikan permasalahan di Desa Long Sule dan Long Pipa. Warga berharap jika ada subsidi penerbangan MAF tentu akan bisa membantu beban hidup warga sekitar.

Meski kondisi mereka sangat memperihatinkan, masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa tetap selalu tegar dan menjaga nasionalisme mereka sebagai bagian warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka hanya berharap pemimpin bangsa ini bisa melirik nasib ketertinggalan mereka dari daerah lainnya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here