Begini Penderitaan Warga Pedalaman Malinau Mencari Sembako – Episode 2

0
77

MALINAU – Dihari kedua rombongan yang hendak melanjutkan perjalanan pun mempersiapkan barang-barang mereka. Sementara, para supir sibuk melakukan pemeriksaan ringan terhadap kendaraan. Selesai mempersiapkan segala sesuatunya, perjalanan pun dilanjutkan menuju Kamp Pelangsiran di KM 87.

Parahnya kondisi jalan membuat para supir kerap berhenti untuk memperbaiki jalan. Bahkan ditengah perjalanan pun tak jarang rombongan dihadang oleh pohon tumbang.

Perbaikan dan pembersihan jalan dengan alat seadanya pun tak terelakkan. Dikatakan Budi, pengemudi senior yang sudah belasan tahun melintasi jalan ini, rintangan seperti ini kerap mereka jumpai selama perjalanan.

“Yang parah kalau ada tanah longsor. Karena kami para supir harus membersihkan longsoran hanya menggunakan cangkul saja,” ujarnya sembari memperbaiki kerusakan jalan.

Selesai memperbaiki jalan, perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri jalan selebar 2,5 meter, tikungan tajam serta longsoran badan jalan menjadi pemandangan yang harus disaksikan. Ditambah, turunan terjal serta jembatan kayu seadanya untuk menghindari longsoran jalan, demi sekedar menyambung jalan.

Menyebrangi kubangan lumpur dan aliran sungai-sungai kecil, juga menjadi bagian yang tak terlewatkan.

Tiba di Km 86, para pengemudi kemudian melakukan pembongkaran barang. “Beginilah jalan yang harus kami lewati dari Wahau. Makanya kondisi jalan mempengaruhi harga barang di Desa Long Sule dan Desa Long Pipa,” ujar Musanif, pengemudi sekaligus pemilik toko di Desa Long Sule dan Long Pipa.

“Kalau kondisi jalan bagus, harga transportasi barang bisa dikurangi. Karena kalau jalan rusak, perbaikan bisa lebih mahal lagi,” sambung Musanif.

Setelah tiba di Km 86 atau Kamp Pelangsiran, warga Desa Long Sule dan Long Pipa harus berjalan kaki menuruni lereng gunung curam sejauh 800 meter menuju tepi Sungai Telen, sembari menggendong barang mereka. Sementara Sembako dan BBM yang hendak dibawa menuju Desa Long Sule dan Long Pipa, diangkut oleh para buruh yang dikenal dengan sebutan Pelangsir, dengan upah Rp 1500 perkilonya.

Tiba di tepi Sungai Telen, tak adanya jembatan penghubung membuat masyarakat harus menyebrangi sungai menggunakan papan yang tergantung pada tali seling berukuran 10 milimeter, sejauh 60 meter.

Setibanya diseberang sungai, masyarakat desa harus mendaki jalan setapak terjal sejauh 150 meter untuk tiba di Kamp Pelangsiran, yang biasa dijadikan gudang bagi para pedagang untuk menampung barang mereka, sebelum diangkut menuju Desa Long Sule dan Long Pipa.

Setibanya di Kamp Pelangsiran, warga desa yang hendak melanjutkan perjalanan menuju Desa Long Sule dan Long Pipa tak bisa langsung berangkat. Pasalnya, mobil yang biasa mengangkut sembako menuju Desa Long Sule dan Long Pipa telah berangkat menuju Muara Sungai Metun.

Tidak adanya jaringan seluler serta alat komunikasi, membuat masyarakat hanya bisa menunggu kembalinya mobil dari Muara Sungai Metun tanpa ada kepastian.

“Paling cepat biasanya 5 hari sudah sampai kembali di Pelangsiran. Itupun kalau tidak ada hambatan,” ucap Bu Susilo salah seorang pedagang dan pemilik penginapan di Kamp Pelangsiran.

Hal tersebut dipertegas oleh Sujarwo, seorang pelangsir yang menjelaskan hambatan yang kerap dijumpai saat perjalanan dari Kamp Pelangsiran menuju Muara Sungai Metun. “Hambatannya itu biasanya longsor, sungai banjir, atau mobil rusak. Tapi kalau ada hambatan ya tidak bisa dipastikan. Bahkan bisa Satu Bulan,” jelasnya.

Beruntung 6 hari menunggu di Kamp Pelangsiran, mobil pengangkut dari Muara Sungai Metun tiba di Kamp Pelangsiran. Namun mobil yang kembali dari Muara Sungai Metun tak bisa langsung berangkat.

Banyaknya barang yang diangkut, serta sulitnya medan yang ditempuh, membuat mobil harus mengalami perbaikan. “Biasanya bisa 3 hari perbaikan, tergantung kerusakannya,” ujar Gimin, Koordinator pengemudi Pelangsiran-Metun kepada tim Kalimantan tv.

Ketersediaan spare part juga menjadi penentu masa perbaikan para pengemudi. “Kalau spare partnya gak ada, ya harus pesan dulu di Samarinda. Tapi kebanyakan masing-masing mobil sudah siap semua alat serepnya,” lanjutnya lagi

Saat ini terdapat 11 unit mobil di Kamp Pelangsiran. Namun yang bisa beroperasi hanya 7 unit saja. Tidak adanya supir dan parahnya kerusakan, membuat mobil tak dapat dioperasikan seluruhnya.

Setelah 10 hari menunggu di Kamp Pelangsiran, warga Desa Sule dan Long Pipa pun akhirnya bisa berangkat menuju Muara Sungai Metun. Setelah seluruh sembako dan BBM yang hendak di bawa ke Desa Long Sule dan Long Pipa dimuat, para penumpang kemudian menaiki mobil.

Meski telah membayar Rp 800 Ribu per orangnya, lagi-lagi sebagian dari masyarakat yang tak kebagian kursi, harus duduk bersama tumpukan barang di bagian bak belakang mobil. Tak ada pilihan lagi bagi masyarakat, jika harus menunggu giliran keberangkatan lagi.

Baru berjalan sejauh 1 KM, konvoi kendaraan harus menyebrangi anak sungai telen. Satu persatu mobil menyeberang dan mendaki tanjakan disebrang sungai. Kendaraan yang berhasil menyebrang harus menunggu kendaraan di belakangnya dan begitu seterusnya. Namun saat mobil ke-6 yang dikemudikan arifin hendak menyebrangi sungai, mobil arifin terhenti karena tak kuat menanjak. mobil miliknya pun harus ditarik mundur ke tepi untuk perbaikan.

Saat diperiksa, ternyata long shaft penggerak roda belakang miliknya patah setelah terhentak batu besar yang ada didasar sungai. Arifin terpaksa harus berendam dalam air untuk perbaikan. “Biasa sudah seperti ini, kalau harus perbaikan mobil. Jadi alat-alat semua harus dibawa,” ujarnya.

Ya, selain membawa perkakas untuk memperbaiki kendaraan, para sopir pelangsiran-metun masing-masing juga membawa bekal spare part yang sering rusak dalam perjalanan.

Usai perbaikan dan memastikan seluruh mobil berhasil menyebrangi sungai, konvoi kendaraan kembali melanjutkan perjalanan menuju muara sungai metun. Hujan yang mengguyur malam sebelum keberangkatan membuat jalanan tanah dan berlumpur yang dilalui menjadi semakin licin.

Kontur tanah yang tidak rata kerap membuat mobil yang dikemudikan para sopir sering berpindah haluan arah kemudi. Raungan mesin mobil akibat jalanan menanjak dan tak kuat melintasi jalan licin maupun kubangan lumpur menjadi suara pemecah keheningan kawasan hutan kalimantan kala itu.

Badan jalan yang tergerus akibat hujan maupun longsor, rebahan pohon tumbang menjulang ke badan jalan juga menjadi pemandangan yang kerap terlihat ditengah rimbunnya pepohonan hutan kalimantan.

Parahnya kondisi jalan, membuat laju maksimal kendaraan tak lebih dari kecepatan 5 km perjam. roda mobil pun kerap terangkat dari tanah, akibat dalamnya lubang.

Sedikit perbaikan jalan sebelum melintas kerap dilakukan bersama-sama oleh para supir dan penumpang. Meski hanya dilakukan menggunakan alat seadanya, yang terpenting mobil masih bisa lewat dan tak terhambat.

Menempuh jarak 16 kilometer dari Kamp Pelangsiran ditambah hari yang mulai gelap membuat para supir bersama masyarakat desa Long Sule dan Long Pipa memutuskan beristirahat di sebuah kamp milik perusahaan restorasi habitat Orang utan Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here